Potensi Budaya Desa Napo Laok
1. Ngoras Sombher atau menguras sumber
Menguras sumber atau biasa dikenal dengan sebutan ngoras sombher adalah salah salah satu adat dan budaya terkenal yang ada di Desa Napo Laok Kecamatan Omben Kabupaten Sampang Madura. Dalam perayaan ngoras sombher ini dilakukan setiap bulan kedua kalender hijriyah dan ini dilakukan secara turun temurun. Tradisi ini berkaitan erat dengan sejarah Raden Abdul Jabbar atau biasa dikenal dengan sebutan Bhuju’ Napo, dimana istilah tersebut memiliki makna buyut atau sesepuh yang pada zaman dahulu diyakini memiliki kekuatan dan sangat berjasa bagi desa Napo Laok. Sebagai buktinya adalah adanya peninggalan sumber mata air terkenal yang ada di Desa Napo Laok ini yakni disebut dengan “Sombher”. Peninggalan sumber mata air tersebut tetap dirawat dengan baik hingga saat ini walaupun di beberapa titik masih terdapat sampah. Jadi, sudah bukan sesuatu yang asing lagi khususnya bagi masyarakat Napo Laok ketika setiap bulan Safar melakukan tradisi Ngoras Sombher apalagi sumber mata air tersebut merupakan peninggalan dari orang terpercaya yakni Raden Abdul Jabbar yang manfaatnya sampai saat ini masih diyakini bisa menyembuhkan penyakit.
Sumber mata air ini terdapat beberapa bagian tersendiri yang di khususkan untuk mandi, minum, hingga tempat khusus bagi mereka yang haid dan baru selesai melahirkan, jadi di sumber tersebut sudah di sediakan tempat tersendiri sehingga tidak tercampur dan tetap suci menurut keyakinan penduduk setempat. Menurut salah satu masyarakat desa Napo Laok, kala itu semasa hidup Raden Abdul Jabbar Desa ini pernah mengalami kekeringan sehingga masyarakat setempat kesulitan dalam menjalani kesehariannya utama nya untuk mendapatkan air bersih. Dalam situasi tersebut, konon Bhuju’ Napo (Raden Abdul Jabbar) menancapkan tongkatnya di atas tanah dan langsung mengeluarkan air yang sampai saat ini menjadi sumber. Untuk melestarikan peninggalan tersebut masyarakat setempat melakukan pembersihan dan kuras air setiap jumat manis bulan shafar sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan terhadap leluhur. Sesuatu hal pernah terjadi ketika masyarakat pernah tidak melakukan ritual ngoras sombher tersebut namun yang terjadi adalah masyarakat mengalami kekeringan.
2. Panjhe' Rajeh atau Menanam Padi Besar-besaran
Panjhe’ Rajeh ini juga merupakan adat tahunan yang dilakukan di Desa Napo Laok Kecamatan Omben Kabupaten Sampang. Panjhe’ Rajeh ini seperti dalam sebutan tersebut memiliki dua kata yakni Panjhe’ yang artinya menanam padi dan Rajeh sendiri memiliki arti besar sehingga jika keduanya diartikan adalah menanam padi secara besar-besar an. Tradisi ini juga dilakukan setahun sekali seperti adat ngoras sombher dan memiliki waktu tersendiri ketika pelaksanaannya yang biasanya dilakukan setiap hari selasa legi ketika akan musim hujan. Kegiatan ini dilakukan di sawah peninggalan Bhuju’ Napo yang lebar sawahnya kurang lebih sekitar 1 hektare dan sebelum penanaman dan ritual di sawah tersebut selesai maka sawah-sawah yang lain tidak boleh menanam karena di percayai nanti tanaman padinya akan rusak dan tidak subur.
Hal itu sudah pernah terbukti terdapat warga yang melanggar aturan adat dan benar adanya bahwa tanamannya rusak dan tanahnya tidak subur. Semua masyarakat khususnya warga Desa Napo Laok juga ikut andil dalam ritual tahunan tersebut. namun, ketika penanaman bibit padi tidak semuanya sawah dalam satu hektare ini langsung dituntaskan namun masih menyisakan satu kotak untuk dituntaskan keesokan harinya. Di situlah ritual tahunan panjhe’ rajah dilakukan. Saat malam hari dibacakan macopat atau mamacah yang isinya adalah kisah Nabi Muhammad. Keesokan harinya biasanya yang dilakukan adalah menancapkan empat tombak peninggalan Bhuju’ Laok pada setiap sudut kotak sawah dan pembawaannya di arak oleh masyarakat hingga sampai ke sawah. Setiap tombak memiliki nama yakni Si Nonggososro, Si Mendolo, Si Drajan, dan Si Buntut.
Setelah penancapan tombak tersebut dilanjutkan dengan tari kenceng (nari sambil jingkak-jingkak_ di sawah. Yang menari kenceng hanya satu orang saja tetapi ada dua laki-laki yang mengirinya dengan membawa selendang dan di letakkan di atas kepala cewek sambil di pegang tiap sudut selendang tersebut sampai selesai memutari sawah tersebut. ritual panjhe’ Rajeh ini diakhiri dengan menuntaskan penanaman bibit yang tersisa satu kotak sawah tersebut.
“Ngoras sombher” dan “panjhe’ rajah”. Kedua budaya tersebut di selenggarakan selama setahun sekali dimana penyelenggaraan ngoras sombher ini dilakukan ketika akan menjelang musim hujan, sedangkan budaya atau adat panjhe’ rajeh ini dilakukan ketika akan menjelang musim tanam padi dimana hal ini dilakukan secara bersama-sama dan terdapat beberapa ritual seperti pembacaan tahlil, mamaca (macapat), khatmil Qur’an di pesarean almarhum Buju’ Napo, hingga menyiapkan beberapa sesajen atau hidangan di sawah seperti buah dimana makanan itu diletakkan di deket bambu. Pelaksanaan kedua ritual tersebut biasanya dilakukan pada hari jumat legi atau jumat manis. Adapun tujuan ritual adat tersebut berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar sumber air mengalir dan air hujan yang turun lancar. Tidak hanya sebagai ritual atau adat istiadat dan budaya saja, tetapi kedua hal tersebut juga biasa disebut dengan selametan menurut orang-orang khususnya masyarakat di Desa Napo Laok sendiri. Setelah melakukan ritual tersebut, biasanya hal yang dilakukan oleh masyarakat adalah makan bersama dari nasi tumpeng yang telah ada dan biasanya keluarga dari Bhuju’ Napo sendiri yang buat nasi tersebut.
0 komentar: