Sejarah Desa Napo Laok

0 Comments


Sejarah Desa Napo Laok dapat di ketahui dari kisah cerita perjalanan Sayyid Raden Abdul Jabbar Bhuju’ Napo Kec. Omben Kab. Sampang. Silsilah Sayyid Abdul Jabbar Al-Giri Al-Ishaqi Al-Qodiri Al-Hasani Bhuju` Napo Omben Sampang, yakni;

Sayyidina Rosulillah Shollallahu `Alaihi Wasallam

1.
Sayyidah Fatimah Az-Zahro`
14.
Sy. Sholeh
2.
Sy. Al-Hasan As-Sibthi
15.
Sy. Abdul Aziz
3.
Sy. Al-Hasan Al-Mustanna
16.
Sy. Abdur Rozzaq
4.
Sy. Abdulloh Al-Mahdhi
17.
Sy. Abdul Jabbar
5.
Sy. Musa Al-Jun
18.
Sy. Syu`aib
6.
Sy. Abdulloh
19.
Sy. Abdul Qodir
7.
Sy. Musa
20.
Sy. Junaid
8.
Sy. Daud
21.
Sy. Ibrohim Maulana Ishaq
9.
Sy. Muhammad
22.
Sy. Ya`qub Pangeran Wali Lanang
10.
Sy. Yahya
23.
Sy. Muhammad Ainul Yaqin Sunan Giri
11.
Sy. Abdulloh
24.
R. Ali Panembahan Kulon
12.
Sy. Abu Sholeh Musa Janki Dausat
25.
R. Zainal Abidin Khotib Mantoh Madegan
13.
Sy. Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani
26.
R. Abdul Jabbar Bhuju` Napo Omben

      R. Abdul Jabbar Bhuju` Napo merupakan salah satu santri dari Raden Kabul. Raden Kabul yang biasa disebut Bhuju’ Aji Gunung Sampang, Mempunyai pangkat waliyullah. Saat ini pesareannya berada di Kampung Aji Gunung Kelurahan Gunung Sekar, Kabupaten Sampang. Beliau mempunyai beberapa santri diantaranya: 1). Syeh Maulana Abdul Djabbar (Bhuju’ Napo) yang mempunyai julukan Pangeran Jimat, 2). Bhuju` Abdul Alam Prajjan, Kecamatan Camplong Kabupaten Sampang, sekaligus menjadi menantunya, 3). Bhuju’ Agung Rabah, Kecamatan Pademawu Kabupaten Pamekasan. Ketiga santri Bhuju’ Aji Gunung Sampang ini mempunyai pangkat waliyullah, ilmunya tinggi, juga mempunyai kesaktian dan karisma. Diantara santrinya hanya Bhuju’ Napo yang bisa mengambil Al-Qur'an si Jimat yang ada di Kabupaten Bangkalan.
Waktu itu dimana Bhuju’ Aji Gunung Sampang mau melaksanakan sholat magrib berjamaah bersama santrinya, yang berjumlah 40 santri, Bhuju’ Aji Gunung memerintahkan kepada santrinya, siapa yang bisa mengambil al-qur'an si jimat ke Bangkalan, yang mana al-qur'an tersebut harus dipasrahkan atau diberikan setelah sholat magrib, ke 40 santrinya tidak ada yang sanggup, maka Bhuju’ Aji Gunung memerintahkan untuk memanggil Raden Abdul Jabbar (Bhuju’ Napo) yang waktu itu berada di belakang pondok, yang sedang mengembala kambing punya gurunya, Bhuju’ Aji Gunung. ketika Bhuju’ napo diperintahkan gurunya untuk mengambil al-qur'an si jimat itu yang ada di Bangkalan, maka Bhuju’ Napo mengajukan permintaan, supaya membakar pohon kettan hitam ( romanah etem : bahasa maduranya) ketika pohon kettan hitam di bakar, maka Bhuju’ Napo menghilang mengikuti asap akibat pohon kettan hitam tersebut yang di bakar. ketika gurunya selesai menunaikan sholat magrib, maka Bhuju’ napo memasrahkan al-qur'an si jimat tersebut kepada gurunya, dan al-Qur'an si Jimat tersebut sampai sekarang masih ada dan di buat untuk sumpah Pocong di Masjid Madegan Sampang.
Ada cerita yang lain, ketika Bhuju’ Napo melaksanakan ibadah haji, ditengah perjalanan, Bhuju’ Napo menanam biji mangga, setelah pulang dari mekah Bhuju’ Napo mengambil buah mangga yang telah di tanamnya, yang saat ini biji mangga tersebut masih ada dan berukuran sangat besar. Ketika Bhuju’ Napo pergi ke mekah, bagi Bhuju’ Napo perjalanan ke mekah sangat mengasikkan, dengan menaiki raja ikan yaitu ikan paus. Menurut cerita tutur, ikan paus itu bernama Raja Menah. dengan kuasa Allah SWT raja ikan itu menghampiri Bhuju’ Napo yang saat itu berada ditepi pantai, dan Syeh maulana Abdul Jabbar menaiki raja ikan, dengan tak terasa maka sampailah di tepi pantai Negara Arab. Sebelum Bhuju' Napo bermukim di Napo, Sang Guru melemparkan Batu ke arah Utara dan Batu itu awalnya berwarna Hitam, tapi karena sering terkena sinar matahari akhirnya sekarang berwarna putih dan bentuknya bundar dengan garis tengah -+ 0,5 m dan Tebal -+ 15 cm. Batu itu secara kebetulan jatuh atau Napa' di suatu kampung dan kena pada sebatang pohon besar yang sudah kering dan lapok. masyarakat biasa menyebut " TANAPO" (bahasa : madura) bermulai dari kejadian itulah maka kampung tersebut di namakan TANAPO di perpendek menjadi " NAPO", ada cerita lain Nama Desa Napo di ambil dari Napa' nya atau Nyampeknya batu yang di lempar oleh gurunya Bhuju’ Napo yaitu Aji Gunung Sampang di Desa Napo.
Desa Napo dulu menjadi Desa Mardikan yaitu desa yang bebas bayar pajak pada zaman Cakraningrat II, Raja bagian barat Madura, karena Bhuju’ Napo pada Tahun 1602 pernah berjasa terhadap Pangeran Cakraningrat II Panembahan Siding Kamal pada waktu disekap di Hutan Ludoyo Kota Kediri oleh Pangeran Trunojoyo akibat tipu daya Raja Mataram waktu itu. Setelah aman Pangeran Cakraningrat kembali ke Madura, maka Pangeran Cakraningrat II memberikan hadiah Desa Napo Menjadi Desa Mardikan yaitu Desa yang bebas dari Pembayaran Pajak Bumi.
Raden Abdul Djabbar (buju' Napo) masih keturunan Sunan Giri dari jalur Pangeran Khotib Mantoh Madegan Sampang yang punya ijasah Ngai Rajeh. Hingga saat ini, batu yang pernah dikendarai oleh Bhuju’ Napo, sekarang masih ada dan di simpan di musholla (samping Masjid Napo Laok) dan beberapa pusaka peninggalan syeh masih lengkap yang konon sebagian pernah di gunakan untuk berjuang melawan penjajah Belanda. Kepala Desa yang Pertama memimpin Desa Napo adalah: KH.R. Abd Djabbar ( Bhuju’ Napo), Pada masa Keturunannya yang ke Tujuh  yaitu R. Bunduk Raksajaya ( Buju' Bunduk ) inilah Desa Napo di bagi menjadi dua yaitu Desa Napo Laok dan Desa Napo Daya. Desa tersebut di pecah menjadi  Desa Napo Laok dan Desa Napo Daya karena pada saat itu pernah terjadi berebutan  klebun atau kepala desa sesama saudaranya. KH.R. Abd Djabbar ( Bhuju’ Napo) merupakan sesepuh di Desa Napo sebelum Desa Napo dipecah menjadi dua desa. Bhuju’ Abdul Jabbar banyak memberikan serta meninggalkan pusaka hebat di Gubuk Tua miliknya yang berada di Desa Napo Laok yang sekarang di jadikan museum tempat benda-benda peninggalannya, Sedangkan makamnya berada di Desa Napo Daya sesuai letak geografis dan buku peta desa.
Desa Napo Laok sendiri terdiri dari Dua Dusun yaitu Dusun Somber dan Dusun Tanonggul, di beri nama Dusun Somber karena di Dusun tersebut terdapat mata air yg konon ceritanya akibat perantara tongkatnya Bhuju’ Napo Raden Abdul Jabbar di tancapkan ke tanah maka akibat di tancapkannya tongkat tersebut maka keluarlah air dari dalam tanah tersebut. Di Somber tersebut juga terdapat air yang mendidih ketika pada hari Jum'at manis tepatnya pada waktu adzan sebelum sholat jum'at di mulai, yang konon kahasiatnya bisa menyembuhkan orang yang sakit, disamping ada air yang mendidih juga ada batu yang pernah di pakai Bhuju’ Abdul Jabbar untuk membersihkan kakinya, batu tersebut juga mempunyai kahasiat untuk menyembuhkan sakit pada kaki dengan cara mengusapkan air yang ada di batu tersebut, juga Pesarean Bhuju’ Napo Raden Abdul Jabbar, Rumah dan Musholla atau langgar Peninggalannya juga berada di Dusun Somber.
      Sedangkan asal usul di beri nama Dusun Tanonggul adalah mengambil nama dari sebuah batu yang mana batu tersebut menurut cerita adalah batu yang biasa di pakai untuk mengikat tali kudanya Bhuju’ Napo yang berbentuk Nonggul, maka awal nama Dusun Tersebut mengambil dari batu yang Nonggul maka di sebut dusun Batununggul, sekarang di kenal dengan nama Dusun Tanonggul dan batu tersebut pada saat ini masih ada. Desa Napo Laok mempunyai adat tradisi diantaranya tradisi bersih-bersih Somber atau Ngoras Somber (bahasa madura) dan Menanam Padi Besar atau Panje' Rajeh (bahasa madura), Tradisi Ngoras Somber biasanya dilakukan setahun sekali pada bulan Suro tepatnya Hari Jum'at manis pagi oleh warga Desa Napo Laok dan warga Desa sekitar dan disertai dengan pembacaan Macopat paginya juga di bawah Pohon besar sekitar Mata air Somber. Sedangkan Tradisi Panje' Rajeh biasanya di laksanakan di Bulan Maulid pada hari Selasa Manis diisi dengan pembacaan macopat pada Malam harinya dan pagi harinya di laksananak arak-arakan empat tombak pusaka Peninggalan Bhuju’ Napo di bawa ke Lokasi Sawah tempat Ritual panje' Rajeh dan di taruh di empat penjuru lokasi sawah, Barat Laut di taruh Tombak si Buntut yang di ikat surban merah putih, Barat Utara yang di taruh Tombak si Tolop yang di ikat kerudung merah, Timur Daya di taruh Tombak si Kracan yang di ikat kerudung ungu dan sebelah Timur Laut di taruh Tombak si Amben yang di ikat samper Peta.

0 komentar: